Eskalasi Rusia-Ukraina Picu Kenaikan Harga Minyak

  • Bagikan
Ilustrasi (INT).

INITIMES.COM – Harga minyak melonjak 2% ke level tertinggi 7 tahun, pada Senin (15/2/2022) karena Presiden Ukraina mengatakan Rusia bisa saja menyerang negara itu pada Rabu (16/12/2022).

Dilansir dari beritasatu.com, minyak mentah Brent naik US$ 2,04, atau 2,2%, menjadi US$ 96,48 per barel, setelah menyentuh level tertinggi sejak September 2014 di US$ 96,78.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,36, atau 2,5%, menjadi US$ $ 95,46 per barel, setelah mencapai US$ 95,82, tertinggi sejak September 2014.

Rusia adalah salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia. Kekhawatiran konflik Rusia-Ukraina telah mendorong reli minyak mendekati US$ 100 per barel.

Baca Juga  Kisah Pilu, Wanita Budak Seks ISIS Makan Bayinya Sendiri

“Pasar sangat sensitif terhadap perkembangan situasi Rusia dan Ukraina,” kata analis Again Capital John Kilduff, di New York. “Ketegangan sekarang meningkat ke tingkat yang luar biasa”.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan dirinya telah mendengar bahwa Rabu bisa menjadi hari invasi Rusia.

Sementara Amerika Serikat tidak melihat tanda-tanda Rusia menarik pasukannya di perbatasan Ukraina, kata Departemen Luar Negeri AS.

“Masih belum jelas apakah Rusia tertarik untuk menempuh jalur diplomatik,” kata Departemen Luar Negeri.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan Amerika Serikat sedang merelokasi kedutaannya di Ukraina dari ibu kota Kyiv ke kota barat Lviv.

Baca Juga  Astronom Australia Temukan Energi Misterius ke Arah Bumi

Rusia telah menempatkan ribuan tentara di dekat perbatasan Ukraina. Namun Moskow menyangkal rencananya untuk menyerang dan menuduh Barat berlebhan. Amerika Serikat memperingatkan bahwa Rusia dapat menyerang Ukraina kapan saja.

“Rusia adalah salah satu produsen minyak mentah terbesar, dengan kapasitas sekitar 11,2 juta barel per hari,” kata analis pasar minyak Rystad Energy, Nishant Bhushan.

“Setiap gangguan minyak dari wilayah tersebut akan membuat harga Brent dan WTI meroket di atas US$ 100,” kata Bhushan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, OPEC+, telah berjuang memenuhi janji untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari (bph) hingga Maret. (*)

  • Bagikan